Kurikulum Prototipe : Kurikulum Pro Tipe Kapitalis

Spread the love

Oleh. Punky Purboyowati, S. S
(Pena Cendekia)

 

Muslimahtimes.com–Dunia pendidikan tanah air dikejutkan oleh berita tentang rencana perubahan kurikulum pendidikan yaitu perubahan dari kurikulum 2013 (kurikulum darurat) diubah dalam bentuk kurikulum Prototipe (kurikulum penggerak). Pada tahun 2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Nadiem Anwar Makarim, berencana menawarkan kurikulum baru yang lebih fleksibel bernama kurikulum Prototipe yang lebih berfokus pada materi yang esensial dan tidak terlalu padat materi.

 

Kurikulum berfokus pada materi esensial penting agar guru memiliki waktu untuk pengembangan karakter dan kompetensi bukan sekadar kejar tayang materi. Kurikulum sedang diterapkan secara terbatas di 2500-an sekolah di seluruh Indonesia melalui Program Sekolah Penggerak. (detik.clm, 1/12/2022)

 

Kurikulum ini ditawarkan Kemendikbud Ristek sebagai pilihan bagi sekolah untuk mengatasi learning loss (kehilangan pembelajaran) di masa pandemi. Penawaran lainnya adalah kurikulum ini lebih merdeka, memberi kesempatan kepada guru untuk berkreasi dan berinovasi serta memberi kemerdekaan kembali kepada guru. Namun, kurikulum ini merupakan pilihan hanya bagi sekolah yang ingin menerapkannya.

Keberhasilan penerapannya tidak lepas dari peran guru dan kepala sekolah. Untuk itulah kurikulum Prototipe lahir sebagai terobosan baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Jika demikian, benarkah kurikulum yang baru ini mampu diterapkan untuk atasi masalah dunia pendidikan saat ini atau sebaliknya?

Kurikulum Pro Tipe Kapitalis

Sekilas wajah baru kurikulum Prototipe terlihat bagus dan simple. Terlebih untuk para gurunya diberi kemerdekaan, berkreasi dan berinovasi. Capaian mengajarnya pun tak lagi kejar materi sehingga lebih ringkas. Sekolahnya pun difasilitasi dengan sarana yang baru, seperti penyediaan laptop dan alat peraga lainnya. Namun, sebenarnya ada apa dengan wajah baru dunia pendidikan saat ini? Bukankah sudah beberapa kali kurikulum silih berganti apalagi di saat pergantian menteri? Hendaknya sebelum berwacana, perlu mengkaji kembali secara mendalam agar jangan sampai setiap kali kurikulum berganti, namun masalah pendidikan tak kunjung teratasi justru masalah semakin menjadi.

Sesungguhnya hal ini bermula dari sistem pendidikan yang diterapkan saat ini, yaitu Kapitalis (baca : Barat) yang sekuler. Dunia pendidikan di negeri mana pun tak jauh beda, semua pro (setuju) dengan tipe (model) berbasis kapitalis sekuler yang menganggap bahwa materi adalah segalanya, sedangkan agama tak boleh ikut campur dalam kehidupan. Dalam praktiknya yang sangat menonjol adalah kebebasan (liberal). Lihat saja, anak didik yang dihasilkan masih jauh dari harapan. Narkoba, seks bebas, gaya hidup yang hedonis mewarnai kehidupan anak didik. Maka, boleh saja kurikulum berganti namun jika masih berbasis kapitalis sekuler tetap takkan mampu mengubah wajah dunia pendidikan menjadi lebih baik.

Sebaliknya wajah dunia pendidikan berubah suram. Pendidikan yang diwujudkan tak terarah. Mahalnya pendidikan memperlihatkan dengan jelas masih ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Pun dengan sarana dan prasarana yang tak memadai masih dirasakan oleh sekolah yang ada di daerah terpencil, belum lagi berbicara masalah mutu pendidikan yang outputnya masih jauh yang diharapkan. Inilah kurikulum pro tipe Kapitalis yang rapuh.

Karenanya kurikulum seperti ini tidak bisa diharapkan. Kemudian perubahan kurikulum harusnya memiliki tujuan yang jelas dan pasti yang dapat menghapus kerapuhannya bukan menambah bangunan yang rapuh. Rapuh oleh sebab akidah dasarnya pro tipe kapitalis sekuler yang menuhankan aturan manusia sebagai sumber hukum. Alhasil, pendidikan tak ubahnya berputar-putar di tengah jalan tanpa arah yang pasti.

Kembali pada Kurikulum Pro Tipe Islam

Sebenarnya ada yang mengganjal pada kurikulum kapitalis sekuler yaitu tak adanya peran agama yang mengatur masalah dunia pendidikan. Benar saja Indonesia tak menghasilkan kemajuan yang berarti khususnya dalam dunia pendidikan.

Sejatinya kapitalis tak menginginkan Indonesia maju. Baik dari segi materiil maupun nonmateriil. Indonesia dibuat banyak utang pada negara Barat. Alhasil, jebakan utang menyebabkan Indonesia tak mampu mandiri dalam menentukan arah kebijakannya sendiri salah satunya dalam dunia pendidikan.

Kapitalis masih turut campur tangan atas masalah umat Islam dan agamanya sekali pun bersifat privat. Misalnya sejarah Islam, tafsir khilafah dan jihad harus dihilangkan dalam mata pelajaran fiqih, ide Islam toleran, dan lain-lain. Maka, hal ini menunjukkan bahwa kurikulum Indonesia pro tipe Kapitalis. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim harusnya kembali pada kurikulum pro tipe Islam. Sejatinya pendidikan Islam memuat kurikulum Islam yang lebih memudahkan, materinya ringkas, dan lebih fleksibel dari kurikulum pro tipe Kapitalis.

Kurikulum Islam berbasis akidah Islam yang bersumber dari Dzat Yang Maha Menciptakan manusia dan alam semesta berupa syariat Islam yang terkandung dalam Al Qur’an. Materi dalam kurikulumnya dibedakan antara ilmu yang memuat tsaqofah Islam seperti fiqih, sejarah Islam, pendidikan Islam dan lain-lain dan tsaqofah yang bukan dari Islam, seperti demokrasi, sosialisme, kapitalisme dan lain-lain. Tujuannya agar umat Islam paham betul mana ilmu yang boleh diterapkan dan yang tidak agar tidak terjerumus dengan pemikiran yang sesat.

Dalam kurun 1300 tahun, Islam lebih dahulu gemilang. Oleh sebab diterapkannya aturan Islam dalam semua aspek. Salah satunya menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam di semua jenjang pendidikan. Tak lupa ilmu terapan seperti sains dan teknologi pun difasilitasi negara. Agar umat Islam terus melakukan penelitian dan melahirkan segudang inovasi yang tujuannya tidak lain adalah untuk kemaslahatan umat.

Lahirnya ilmu terapan yaitu sains seperti matematika, fisika, kimia, dan lain-lain diciptakan dari kaum muslimin pada masa itu dan ilmunya dapat dirasakan hingga saat ini. Artinya, umat Islam mampu menghasilkan suatu generasi yang tak hanya beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, tetapi juga menguasai ilmu Islam dan menguasai sains. Hal itu dikarenakan aturan Islam dijadikan sebagai aturan hidup bermasyarakat dan bernegara dalam semua aspek kehidupan. Tujuannya tidak lain adalah meraih rida Allah sehingga keberkahannya dapat dirasakan oleh seluruh semesta alam. Hal ini bukanlah hal yang mustahil karena umat Islam benar-benar berpegang teguh pada aturan Islam bukan pada aturan lain.

Alhasil, umat Islam menjadi mandiri, baik dari segi politik dalam negerinya maupun luar negerinya. Maka tak ada cara lain atasi dunia pendidikan dan bidang lainnya kecuali kembali pada kurikulum pro tipe Islam bukan pro tipe Kapitalis sekuler yang hanya membawa kesengsaraan. Ingat, generasi bukan kelinci percobaan. Mereka adalah aset yang tak bisa ditukar dengan apapun. Mereka adalah penolong umat. Apabila salah mencetak maka salah pula hasilnya.
Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi saw, bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka. Selanjutnya datang kaum-kaum yang kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahua’lam bisshowab.