Maulid Nabi sebagai Refleksi Keimanan

Spread the love

Oleh : Bunda Atiqoh

MuslimahTimes– Bulan Robiul Awal adalah bulan kelahiran Baginda Rasul saw. Bulan dilahirkannya manusia mulia, junjungan kita semua. Pembawa cahaya ditengah kegelapan. Penerang ditengah pekatnya malam. Gegap gempita ummat Islam menyambutnya. Dengan berbagai cara mereka luapkan kecintaan kepada Baginda Nabi saw. Bahkan jauh sebelum memasuki bulan maulid persiapan sudah purna.

Bulan ini menjadi refleksi perjalanan Nabi yang mulia menapaki kehidupan. Membawa ummatnya pada jalan yang terang benderang. Bukan sesuatu yang mudah, bahkan hilangnya nyawa kerap menjadi ancaman. Tak surut langkah walau bahaya menerpa, demi ummatnya yang amat dicinta. Hingga akhir hidupnya pun yang dipikirkan adalah ummatnya. Ummati…ummati…..

Maka tidak heran jika ummat menyambut bulan kelahirannya dengan berbagai cara sebagai manifestasi kecintaan kepada Nabi saw. Manifestasi cinta adalah meneladani semua perilakunya, menyukai apa yang disukai, membenci semua yang dibencinya.
Sudahkah ummat demikian? Beraneka cara ummat mengenangnya. Sholawatan, pengajian, pembacaan syair barzanji adalah salah satu tradisi di bulan Robiul Awal atau bulan maulid. Endhog – endhogan dan permainan gamelan Sekaten juga cara mewujudkan rasa cinta Nabi saw. Ada juga kelompok masyarakat yang hanya gemar “selametan” untuk mengenangnya. Makanan tumpah ruah, bahkan sampai tidak terjamah dan mubazir.

Namun sayang, di tengah semarak maulid Nabi saw, ummat lupa akan suatu hal. Mengambil hikmah dibalik makna maulid. Bulan maulid seharusnya menjadi refleksi keimanan. Meyakini Nabi saw sebagai pembawa risalah menuntut konsekuensi dari keyakinan tersebut. Meyakini kebenaran risalah yang dibawa Nabi saw mengharuskan mengambil semua hukum-hukumNya. Jangankan yang wajib, yang sunnah pun dilaksanakan. Totalitas ketaatan kepada Sang Kholik. . Tapi ummat sekarang terbiasa meninggalkan sunnahnya. Lalai syariatNya. Jauh dari ketaatan. Hingga yang wajib pun lewat.

Kondisi ummat saat ini jauh dari ajaran Nabinya. Islam hanya sebagai label tanpa esensi. Kemeriahan maulid tak menjadi indikator ketaatan, tak mampu mengembalikan ummat pada posisi ummat yang mulia. Ditambah lagi framing jahat yang dihembuskan rezim. Alih-alih meneladani semua perilaku rasul saw, nyunnah sedikit saja di cap radikal. Lebih serem yang jenggotan daripada yang tatoan. Lebih cantik yang pakai rok mini daripada yang cadaran. Lebih bahaya pemuda yang suka kajian akbar daripada dugem akbar. Anak kecil pakai hijab, pelanggaran HAM. Poligami disudutkan, selingkuh dibiarkan. Hafal 30 juz Alquran, militan. Hafal banyak lagu, mantul. Inikah manifestasi cinta Rosul?

Maka pada bulan maulid ini saatnya, menelisik kembali keimanan kita. Merefresh keyakinan kita akan keagungan dinul Islam. Meneladani insan paling mulia, kekasih Allah. Tidak terjebak euforia maulid namun hampa esensi. Hingga kita benar-benar menjadi ummat yang dirindukan Rasul saw. Sebagaimana dalam kisah berikut ini,
Suatu ketika berkumpullah Nabi saw bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian terucap dari mulut baginda yang mulia: “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan saudara-saudaraku.”

Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi sayidina Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian.

“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran. “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah. “Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain seolah iri dengan kedudukan itu.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersabda:
’Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Hadist Muslim)

Wallahu a’lam bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *