Tentang Sebuah Ketetapan dan Kesiapan

Spread the love

Judul buku : Nikah Butuh Ilmu
Pengarang : Iffah Ruhiyah
Penerbit : Khaira Fitri
Tahun Terbit : Agustus 2021
Cetakan : ke-3
ISBN : 978-623-7582-43-4
Jumlah Halaman : 197 Halaman
Harga : Rp82.000
Peresensi : Euis Hamidah

 

“….. menikah bukan sekadar melepas masa lajang, bukan sekedar ajang perlombaan, bukan sekedar tahap melewati fase selanjutnya dalam kehidupan. Ini tentang kesiapan diri kita dalam berjuang dan menjadi sebaik-baiknya hamba Allah yang penuh kebermanfaat.” (hal. 154)

Menikah di dalam Islam dinamakan dengan miitsaqan ghalidza atau perjanjian yang besar. Kenapa demikian? Karena saat sepasang anak adam dan hawa menyatukan hati dalam ikatan pernikahan terjadi sebuah perjanjian yang sangat besar. Dimana perjanjian ini menggetarkan ‘arsy Allah Swt. Namun banyak hal yang terlupakan atau memang dilupakan oleh setiap pasangan, yaitu tentang persiapan menuju pernikahan. Persiapan di sini bukan tentang WO, tempat akad, tempat resepsi, catering atau yang lainnya. Melainkan persiapan ilmu dan mental yang harus setiap individu siapkan jauh-jauh hari sebelum hari bahagia tersebut.

Karena setelah menikah, ada beberapa hal termasuk kewajiban yang berubah pada setiap individu. Nah, perubahan-perubahan inilah yang jika tidak disiapkan mental yang kuat akan menjadi salah satu penyebab renggangnya tali pernikahan. Oleh karena itu, persiapan menuju pernikahan haruslah dipersiapkan dengan sebaik mungkin dan sedini mungkin. Karena menikah bukan hanya AKU, KAMU menjadi KITA. Melainkan lebih dari kata “KITA” di dalamnya. Kelak akan dijumpai asam-garam pernikahan. Semua pernikahan memiliki cerita versi masing-masing dalam menjalankannya.
Namun, tak ada salahnya juga bila kita mempelajari contoh dari pernikahan seseorang. Seperti yang dibahas dalam buku “Nikah Butuh Ilmu” ini yang menjelaskan tentang perjalanan seorang wanita muda yang memutuskan keputusan terbesar dalam hidupnya yaitu menikah pada saat usia 18 tahun dan dengan jalan ta’aruf yang tidak semua orang paham tentang proses tersebut.

Tentu saja, dalam pernikahan terdapat riak-riak air yang menghiasi setiap gelombang kasih sayang di dalamnya. Begitu pula yang diceritakan penulis dalam buku ini.
Buku ini memiliki desain cover yang simpel dengan hiasan tiga bunga yang merekah berwarna pink dan tulisan judul menggunakan huruf sambung dan berwarna putih dengan warna cover hijau, membuat mata sejuk melihatnya. Jenis kertas yang digunakan pun cukup ringan sehingga membuat volume buku tidak terlalu berat untuk dibawa kemana-mana. Penggunaan katanya pun cukup simpel,sehingga memudahkan kita untuk mencerna maksud yang ingin disampaikan oleh penulis.

Buku “Nikah Butuh Ilmu” ini memiliki empat judul besar, dengan jumlah sub-judul masing-masing dalam setiap Bab terdapat 8-14 judul. Dalam setiap judul diberikan ilustrasi bunga yang menandakan bahwa itu merupakan bab baru dalam buku tersebut.
Pada bagian kesatu terdapat sebuah tulisan “Menikah pada dasarnya memerlukan mental perjuangan yang sangat besar. Perjuangan itu mencakupi kerelaan hati kita untuk mengorbankan banyak hal dan memperluas stok kesabaran serta keikhlasan agar tetap berada dalam jalur kebaikan.” Selain itu, dimuat juga tentang definisi cinta, keputusan terbesar, mengapa menikah muda, tanggapan orang tua, ketika surat nikah belum di-acc, proses ta’aruf, ta’aruf adalah proses yang mulia, ujian menjelang pernikahan, awal pernikahan, merantau ternyata asyik, menikah sambil kuliah, tips nikah sambil kuliah, dan menikah memperluas ruang aktualisasi diri. Kesemua judul ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis sendiri, sehingga pesan yang disampaikan tergambar secara jelas melalui pengalaman.

Pada bagian kedua terdapat sebuah tulisan pengantar, “Tidak akan ada pernikahan yang sempurna. Karena sejauh apa pun kita menyembunyikan kekurangan dirimu dan dirinya, tetap saja akan mudah kita temui ketidaksempurnaanya. Tidak ada yang lebih baik dengan menerima dan turut mencintai kekurangan itu, di sepanjang kehidupan yang kita rajut bersamanya.” Melalui tulisan pengantar ini membuat kita memahami bahwa tidak ada satu pernikahan pun yang sempurna, semua memiliki ketidaksempurnaanya masing-masing.

Selain itu juga, dalam bagian ini dibahas tentang keutamaan menikah, mengelola rasa takut untuk menikah, lima persiapan penting untuk menikah, kiat memilih pasanan dalam Islam, memkanai Mitsaqan Ghalidza dalam pernikahan, membangun visi dan misi pernikahan, surat cinta untukmu yang tengah dalam penantian, dan tidak ada pernikahan yang sempurna.

“Kebanyakan kita menginginkan dia yang sempurna, namun lupa untuk menilai diri sudah selayak apa dalam mendampinginya. Kebanyakan kita tak siap dengan kekurangannya, hingga hati tak kuasa dan meronta-ronta ketika berhadapan dengan kekurangan pasangan.” (Hal.123)

Pada bagian ketiga terdapat sebuah penggalam kalimat tentang, “Pahami hakikat pernikahan sesungguhnya, luruskan niat hanya untuk meraih derajat takwa. Jadikan keimanan kepada Allah sebagai pondasi utama di atas segalanya, maka rumah tangga yang dibangun bersama akan kukuh dalam balutan keridaan-Nya. Komitmen teguh untuk menggapai rida Allah adalah komitmen tertinggi yang akan menjadikan pernikahan tidak mudah lebur berserakan dikarenakan minimnya keikhlasan. Justru kita akan pandai dalam menyelaraskan segala harapan agar tidak mudah jatuh pada kekecewaan maupun keputusasaan.”

Bahwa pernikahan sejatinya haruslah diniatkan karena Allah Swt semata, jangan karena manusia. Karena ketika kita menaruh harap kepada manusia (makhluk-Nya), maka kekecewaan yang akan kita dapatkan. Dalam bagian ini, kita akan diberi pemahaman tentang menjaga aib masa lalu, bersiap mempersembahkan amal saleh terbaik, penyesuaian diri suami dan istri, komunikasi suami dan istri, melakukan penerimaan diri, cintai pasanganmu, ikhlas menjalani pernikahan, dinamika dalam rumah tangga, aku dan kamu menjadi kita, dan indahnya pernikahan yang dibangun karena Allah.
Bagian keempat menjadi bab terakhir dalam buku ini. Pada bagian keempat kita akan disuguhi rumus bahagia dalam rumah tangga diantaranya tidak gengsi meminta maaf, menjadi pribadi pemaaf, menyertakan sabar dan ikhlas, berpikir sebelum berbicara, tidak selalu bergantung pada pasangan, saling menolong, menyediakan ruang untuk mendengar, saling memuliakan satu sama lain, pandai mengingat kebaikan pasangan, tetaplah menjadi kekasih bagi pasangan, menyederhanakan bahagia, mudah menerima nasihat, menerapkan komunikasi yang tepat, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

“Tak ada artinya rumah yang dibangun dengan desain indah, jika sepasang suami istri tidak mampu melibatkan Allah dalam membangun rumah tangganya. Tak ada artinya rumah berisi perabotan mewah, jika rumah yang dihuni bersama tidak diisi dengan balutan sinergi satu sama lain.” (Hal. 192)

Layaknya sebuah perjalanan, kita memerlukan persiapan panjang agar keberhasilan yang didapatkan. Begitu pula sebuah pernikahan, diperlukan ilmu yang menunjang agar sakinah, mawadah dan warahmah yang terancang. Buku ini dapat dijadikan bahan referensi tentang persiapan menuju mahligai pernikahan. Karena menikah bukan hanya sebatas melepas masa lanjang, namun didalamnya terdapat serentetan kewajiban. So, buruan baca!