W20 Indonesia 2022: Mampukah Menjadikan Perempuan Berdaya? 

Spread the love

Oleh. Wulansari Rahayu

(Anggota Revowriter dan Penggiat Dakwah) 

Muslimahtimes.com–“Recover Together Equally” yaitu recover atau pulih secara ekonomi dan sosial perempuan tak terlupakan. Adalah tema yang diangkat dalam W20 Indonesia 2022. Women20 (W20) sendiri bagian dari G20 yang merupakan forum kerja sama multilateral, terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU).

W20 adalah salah satu dari engagement group G20 yang fokus pada isu kesetaraan gender dan peran aktif perempuan dalam sektor ekonomi dunia. W20 tahun 2022 rencananya digelar secara hybrid di Likupang, Batu Malang, Banjarmasin, dan Manokwari.

Dikutip dari Beautynesia.com terdapat 4 isu prioritas dalam W20 Indonesia 2022. Pertama, diskriminasi dan kesetaraan. Kedua, inklusi ekonomi, dalam hal ini adalah mewujudkan inklusi ekonomi dengan mendukung UMKM yang dimiliki dan dikelola oleh perempuan. Ketiga, perempuan marginal, yaitu menghilangkan kerentanan, serta meningkatkan resiliensi atau ketahanan perempuan. Keempat adalah kesehatan dengan fokus untuk respons kesehatan yang setara atau adil gender.

Namun pertanyaannya, mampukah kesetaraan gender menjadikan perempuan berdaya? Mungkinkah tercipta rasa aman dan tanpa diskriminasi bagi perempuan?

Menurut laporan ILO pada 2021, saat pandemi perempuan menghadapi kesulitan yang signifikan, salah satunya adalah tingginya risiko kehilangan pekerjaan. Satu sebabnya adalah adanya paparan diskriminasi. Dimana perusahaan lebih memilih mem-PHK pekerja perempuan dengan anggapan bahwa laki-laki lebih berdaya daripada perempuan. Forum tersebut kemudian membahas bahwa hal tersebut merupakan indikasi makin memburuknya kesenjangan gender. Hal ini ditunjukkan dari data bahwa perempuan pada umumnya menghabiskan waktu tiga jam lebih lama dibandingkan laki-laki dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dan itu tanpa upah.

Kondisi tersebut kemudian memengaruhi paparan tingkat stres dan menurunnya kesehatan mental. Inilah penyebab laki-laki dianggap lebih berdaya daripada perempuan. Kondisi ini akhirnya berdampak pada terhambatnya peningkatan pemberdayaan ekonomi perempuan.

Di sisi lain, data global menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan naik berkali lipat saat pandemi. Sebanyak 31 juta kasus terjadi pada 6 bulan pertama pandemi, terus naik hingga 15 juta kasus per 3 bulan selanjutnya. (JPNN, 31/3/2022)

Forum tadi juga menilai semua kekerasan tersebut membuat pekerja perempuan merasa tidak aman sehingga mereka tidak bahagia ketika bekerja. Hal ini bisa berujung pada kesehatan mental yang menurun dan pemberdayaan perempuan yang terhambat. Oleh karenanya, forum tadi ingin menjelaskan pentingnya pembahasan isu kesetaraan di lingkungan kerja, yakni agar perempuan bisa aman bekerja dan tidak terdiskriminasi.

Namun, benarkah pemberdayaan gender akan membuat perempuan aman dan tidak terdiskriminasi serta mampu berdaya secara ekonomi?

Lahir dari Rahim Kapitalisme

Pegiat gender memandang bahwa permasalahan pada perempuan berpangkal dari budaya patriarki, yaitu budaya yang menganggap derajat laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Laki-laki diposisikan sebagai makhluk superior, sedangkan perempuan adalah makhluk inferior. Akhirnya diskriminasi terhadap keduanya kerap terjadi, dimana laki-laki dianggap mampu melakukan banyak hal, sedangkan perempuan terbatas. Sehingga menurut mereka satu-satunya solusi atas keterpurukan perempuan adalah mengubah budaya patriarki dengan mengampanyekan kesetaraan gender.

Padahal jika ditilik lebih jauh, penyebab maraknya diskriminasi pada perempuan adalah sistem kehidupan kapitalistik hari ini yang menjadikan materi segala-galanya dan satu-satunya. Sehingga manusia dianggap bermanfaat adalah ketika manusia mampu menghasilkan materi sebanyak-banyaknya.

Begitupun dengan perempuan, dianggap berdaya jika mampu menghasilkan materi. Berbondong-bondonglah para perempuan bekerja. Dari sini problem kekerasan tersebut dimulai. Perempuan ditarik ke luar rumah tanpa bekal yang matang. Terlebih ide kebebasan bertingkah laku dalam sistem kehidupan kapitalisme, menyebabkan setiap orang bebas melakukan apa pun yang mereka inginkan.

Perempuan bebas memakai busana apa pun, tidak peduli auratnya tampak atau tidak. Laki-laki bebas melakukan apa pun tanpa merasa terbebani dengan moral akibat dangkalnya pemahaman agama. Industri pornografi tumbuh subur. Semua ini adalah konsekuensi logis penyebab tingginya angka kekerasan seksual terhadap perempuan saat ini. Pegiat gender juga menganggap bahwa budaya patriarki lahir dari dogma agama. Mereka menuduh syariat Islam sebagai agama yang mengajarkan patriarki. Dan berpeluang menumbuhkan suburkan diskriminasi. Tentu hal ini anggapan yang keliru. Syariat Islam justru menjelaskan bahwa derajat laki-laki dan perempuan sama di hadapan Allah Swt.

Dan barang siapa mengerjakan amal saleh, baik lelaki atau perempuan, sedang dia beriman, mereka akan masuk surga dan mereka pula tidak akan dianiayai (atau dikurangkan balasannya) sedikit pun.” (QS An-Nisa [4]: 124)

Adanya perbedaan kewajiban antara keduanya tidak boleh dimaknai perbedaan derajat. Tidak boleh pula menyebutnya superior hanya karena laki-laki berkewajiban mencari nafkah, sedangkan perempuan inferior karena kewajiban utamanya mendidik anak dan mengatur urusan domestik. Padahal penyebab kedudukan di ranah publik lebih tinggi daripada domestik adalah ide kapitalistik yang menjadikan materi sebagai tolok ukur dalam menilai perempuan itu sendiri.

Jelaslah bahwa sebab dari semua masalah perempuan hari ini justru dari sistem kapitalisme sendiri. Sehingga memperjuangkan kesetaraan gender untuk menyelesaikan seluruh masalah perempuan bagaikan mecincang air, sungguh usaha yang sia-sia.

Dalam sistem kehidupan Islam memosisikan kewajiban utama seorang muslimah adalah ummun wa rabbatul bait, yaitu ibu dan pengatur rumah tangga, dimana peran strategis dan politisnya itu dipastikan akan berjalan optimal karena Islam memberi jaminan finansial, keamanan, pendidikan, dan kesehatan yang memadai; melalui penerapan syariat Islam kafah, seperti sistem ekonomi dan keuangan Islam, sistem sanksi Islam, dan sebagainya.

Walaupun perempuan tidak bekerja ke luar rumah, ia tetap akan mendapatkan kedudukan tinggi di hadapan Allah jika melaksanakan semua syariat-Nya, termasuk optimal melaksanakan amanahnya sebagai ibu dan manager rumah tangga. Jika pun keluar untuk bekerja, semata untuk mengabdikan diri pada umat.

Inilah yang akan melahirkan perempuan berdaya, mengabdi pada umat dan mendidik anak-anaknya menjadi manusia bermanfaat bagi kehidupan manusia. Wallahua’lam bi showab