Amoral Remaja, Salah Siapa?

Spread the love

Amoral Remaja, Salah Siapa?
Oleh: Wulan Citra Dewi
(Pemerhati Remaja)

Muslimahtimes – Ngilu, unggahan siswi SMA memaksa banyak pihak bersuara. Bukan hanya warga Riau yang dibuat resah, warganet sejagat nusantara juga turut membara. Hal ini dilatarbelakangi oleh viralnya unggahan siswi berseragam SMA yang merayakan kelulusan bersama teman-temannya. Ini bukan perayaan biasa, sebab digelar di tengah wabah corona. Pesta kelulusan ini juga menyesakkan dada, sebab mempertontonkan perilaku yang tak seharusnya.

Sebagaimana diberitakan Tribunnews.com, sekelompok siswa-siswi SMA Negeri 1 Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau merayakan kelulusan dengan berkonvoi, berkumpul dan corat-coret seragam sekolah. Bukan hanya itu, mereka juga mencoretkan gambar-gambar yang tidak senonoh di seragam tersebut. Foto dan video penuh sensasipun mereka unggah dengan gaya yang jauh dari karakter kaum terpelajar.Tidak tanggung-tanggung, aksi para pelajar inipun mendapat sorotan serius dari Inspektorat Jendral Kemeterian Pendidikan (Itjen Kemdikbud). Sungguh miris dan memprihatinkan!

//Generasi Muda Kering Moralitas, Salah Siapa?//

”Naluri ibu dan guru pada jiwaku merasa miris,” demikian ujung dari postingan seorang pendidik di sebuah akun sosial media dalam menyikapi kasus pelajar yang sedang viral ini. Kolom komentarpun segera didesaki oleh tanggapan dari banyak netizen. ”Siapa yang salah?” kalimat bernada putus asapun singgah di sana.

Siapa yang salah? Pertanyaan ini memang patut dilontarkan. Bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi demi peroleh solusi yang jitu untuk nasib generasi negeri. Sebab mau atau tidak, kita harus menerima bahwa generasi muda kita hari ini adalah aset untuk masa depan bangsa. Bagaimana nasib bangsa ini di masa yang akan datang sangat ditentukan oleh kualitas generasi di era sekarang. Karenanya, harus kita temukan akar persoalan yang mengikis moralitas generasi.

Bukan dari guru, bukan pula dari orang tua. Sebab bagaimanapun, tidak ada seorang guru yang ingin gagal dalam mendidik muridnya. Pun orang tua, bagaimanapun kondisi kehidupannya pasti tidak mau buah hati mereka menjadi rusak dan mempermalukannya.
Sekuat tenaga dan semaksimal kemampuan yang dipunya, guru berupaya mengukir karakter terbaik pada siswa dan siswi dengan penuh cinta. Memeras keringat, membanting tulang, juga rela dilakoni orang tua demi biaya pendidikan anak-anaknya. Di sela penatnya raga, ibu dan bapak berupaya menyiramkan nasihat-nasihat demi kebaikan ananda tercinta. Ya, meski dengan cara berbeda-beda tetapi memiliki satu titik yang sama, setiap orang tua ingin memiliki anak yang berguna bagi agama dan bangsa.

Lantas kenapa realitas justru berbanding terbalik dengan angan? Bukan jadi baik, mayoritas generasi muda hari ini justru brutal menabrak nilai-nilai moral. Apa yang salah?

Benar, banyak generasi kita yang miskin moral meski kaya intelektual. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada satu atau dua orang, melainkan sudah menggejala tidak hanya pada perorangan tetapi menjalar hampir ke seluruh penjuru nusantara. Kasus para pelajar tidak akan jauh dari narkoba, pornografi, pornoaksi, amoral, premanisme, bullying, serta pergaulan bebas.
Artinya, persoalan remaja ini bukanlah kasuistik melainkan sudah masuk ke ranah sistemik. Ada sistem yang salah sehingga menghasilkan produk yang salah pula.

Celakanya, karena ini adalah kesalahan sistem, maka produk gagal yang dilahirkanpun berjumlah masal. Inilah yang kita hadapi saat ini.
Mari merenung sejenak. Simak dan perhatikan konten musik yang dinikmati anak-anak kita. Film-film yang mereka gandrungi. Game-game yang mereka mainkan. Iklan-iklan di berbagai kanal media yang mereka serap setiap hari. Bagaimana isinya?

Ya, sekularisme bersanding dengan liberalisme duduk manis mencekoki pikiran anak-anak kita di sana. Paham kebebasan serta pemisahan agama dari kehidupan begitu kental mendominasi setiap tayangan yang dinikmati generasi muda. Atau, jangan-jangan kitapun larut dengan sajian racun berbalut madu tersebut? waspadalah!

Konsep kebebasan yang berbasis pada aqidah sekularisme ini menjajakan pola hidup yang anti aturan. Dalam kamusnya, semakin bebas hidup seseorang maka akan semakin keren, bagus, dan hebat. Maka muncullah sikap hedonisme, individualime, apatisme, premanisme, dan isme-isme lainnya yang berujung pada kebablasan dan keamblasan. Mengerikan!

Nilai-nilai sekularisme dan liberalisme inilah yang menjadi akar masalah dari rusaknya generasi muda kita. Begitu halus dan cantik ide-ide barat ini masuk ke dalam benak anak-anak Indoesia. Setiap hari tanpa jeda. Melalui musik, film, game, makanan, bahkan gaya hidup yang dijajakan di berbagai kanal media. Pesonanya sukses mencuri hati generasi muda, sehingga pesona guru dan orang tua tidak lagi menarik di mata ananda. Inilah faktanya, miris!

Sampai kapanpun, bagaimanapun kurikulum pendidikannya, generasi kita tetap akan terbelenggu pada krisis moral jika paham sekularisme dan liberalisme tetap eksis berlenggak-lenggok di negeri ini. Harus ada perombakan mendasar yang mesti kita lakukan. Bukan sekadar kasus per kasus yang mesti diperbaiki, melainkan sampai pada tataran sistem yang menaungi.
Aturan Ilahi Sebagai

//Solusi//

Jika kebebasan justru melahirkan produk yang rusak, maka apa yang harus kita lakukan? Sangat mudah sebenarnya, tinggalkan sekularisme dan liberalisme. Inilah yang semestinya.

Paham yang berasal dari barat ini harus segera diisolasi. Tidak boleh lagi ada di bumi pertiwi. Selanjutnya, kita kembalikan hidup ini pada aturan ilahi. Inilah solusi terbaik untuk generasi dan masa depan negeri.
Kenapa? Karena aturan Allah Swt. sudah pasti tidak terdoktrin oleh hawa nafsu manusia. Pasti kebenarannya, jelas keadilannya. Menunjukkan serta menuntun pada jalan keselamatan di dunia juga akhirat. Jika sistemnya sudah baik, maka manusianya juga pasti akan baik. Termasuk generasi muda di dalamnya. Terjaga jiwa, raga, serta akalnya. Sehingga mereka benar-benar matang untuk menata peradaban gemilang di masa yang akan datang. Bukankah ini yang kita dambakan?[]

(Visited 87 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *