Flexing Strategi Marketing! Benarkah?

Spread the love

Oleh. Tari Ummu Hamzah

MuslimahTimes.com – Kata “flex” atau flexing bermakna melenturkan otot. Pada masa kini makna kata flexing bermetaforsis menjadi makna yang berarti seseorang berpikir jika dirinya lebih baik dari yang lainnya. Kesimpulannya orang yang flexing adalah orang yang dianggap suka berbohong memiliki banyak kekayaan, meski realitanya tidak. (Kompas.com)

Kata flexing mencuat ketika para afiliator akun Binomo terjerat kasus penipuan. Dua orang yg ditetapkan sebagai tersangka, yaitu Indra Kenz dan Doni Salmanan, terancam masuk penjara selama dua puluh tahun. Kasus penipuan itu bermula ketika seorang artis bernama Ichal Muhammad berani membongkar kebohongan aplikasi trading Binomo, di podcast kanal YouTube Pantengin TV. Video ini ditonton lebih dari 1,3 juta penonton. Dalam wawancaranya itu Ichal mengungkapkan bahwa keuntungan yang diperoleh afiliator mencapai 70% dari hasil trading. Sedangkan 30% untuk aplikasi.

Setelah podcast itu diunggah, mulai bermunculan korban-korban Binomo. Fakta mencengangkan pun mulai terungkap. Korban Binomo rugi ratusan hingga miliaran juta rupiah. Bahkan kerugian telak yang didapatkan sang korban, menjadikan para korban terjerat utang sana-sini. Setelah polisi mengusut kasus ini, terungkap bahwa aplikasi trading Binomo bukanlah aplikasi trading, tetapi judi online. Jejak digital pun dikumpulkan. Salah satunya dalam kanal YouTube milik Doni Salmanan, mereka sendiri mengungkapkan keuntungan mereka sebesar 4 miliar hanya dalam waktu 2 hari. Jelas ini mencurigakan.

Di balik Aksi Flexing

Ternyata strategi marketing juga bisa dengan cara flexing. Hal ini terungkap pada podcast Dedy Corbuzier dengan Tom Martin Charles Ifle tanggal 10 maret, dia menyebutkan bahwa menciptakan image kaya atau kaya palsu ternyata ada di dunia digital. Jadi, ternyata ada agensi yang bersedia mencetak atau menciptakan para influencer atau artis memiliki image kaya. Seperti apa cara kerjanya?

Agensi ini membuat sebuah studio dimana sudah disediakan uang cash dan barang-barang branded. Ada juga mobil-mobil mewah yang sengaja disewa untuk membuat foto dan video, lalu diunggah di media sosial. Jadi seolah-olah artis ini sukses dan kaya raya. Jadi, orang-orang ini sebenarnya hanya boneka untuk menarik masyarakat agar mau untuk ikut aktivitas trading. Ditambah lagi mereka masuk ke dalam lingkaran orang-orang kaya agar mendapatkan banyak akses, plus mendapatkan validasi di hadapan masyarakat, bahwa si influencer ini benar-benar orang kaya yang sukses dan berhak mendapatkan gelar “Crazy Rich” .

Bak jaring laba-laba, pada akhirnya orang-orang terperangkap dalam permainan ini. Silau akan kesuksesan mendadak dari para oknum ini, akhirnya banyak netizen, khususnya milenial, berbondong-bondong mendatangi para oknum flexing ini untuk memberikan cara agar kaya dengan cepat.

Jangan Mudah Silau! 

Pandemi yang menyebabkan kondisi perekonomian negara yang tidak stabil, bahkan cenderung berada pada posisi merosot, mengakibatkan bertambahnya jumlah angka kemiskinan, harga bahan pokok selangit, kelangkaan bahan pokok, pengangguran terjadi di mana-mana, menyebabkan stres bagi masyarakat. Ditambah lagi negara yang berlepas tangan dan minim peran dalam permasalahan umat, menjadikannya masyarakat harus memikirkan nasibnya sendiri.

Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya tingkat kriminal yang bermotif ekonomi. Masyarakat terpaksa melakukan perbuatan-perbuatan ilegal demi bertahan hidup. Parahnya juga media-media sosial kerap kali menayangkan konten pamer. Sehingga membuat masyarakat miskin yang dilanda stres merasa harus segera keluar dari jeratan kemiskinan, apa pun caranya.

Miris! Inilah akibat dari diterapkannya sistem kapitalis yang melahirkan masyarakat yang liberal, hedon, dan sekuler. Liberal atau bebas menjadikan masyarakat bebas bertingkah laku semaunya. Seperti contoh kasus di atas adalah bukti bahwa seseorang merasa bebas berbuat apa saja demi meraup keuntungan.

Kita harus pahami bahwa kapitalis mengedepankan yang namanya ekonomi kapitalis. Segala sesuatu yang mendatangkan keuntungan, apa pun caranya akan ditempuh demi kepentingannya untuk bergaya hidup hedon. Ditambah sekularisme yang menyebabkan masyarakat jauh dari agama. Terutama kaum muslimin. Akibatnya kaum muslimin menjadi kehilangan standar hidup yang hakiki.

Kerusakan demi kerusakannya masyarakat akan terus berlanjut selama negeri ini tidak menerapkan islam sebagai sistem kehidupan. Sebab Islam telah memiliki aturan paripurna yang mampu diterapkan di tengah-tengah kehidupan manusia. Selain itu Islam akan menjaga dan memelihara akidah umat agar tidak dipisahkan dari kehidupannya.

Islam juga memiliki sistem perekonomiannya Islam yang telah terbukti memberikan kesejahteraan bagi manusia. Ini dibuktikan dengan eksistensi peradaban Islam, khilafah yang bertahan selama hampir 14 abad lamanya, yang mampu memberikan kesejahteraan masyarakat. Sehingga pemerataan ekonomi dan kesejahteraannya masyarakat terjamin.

Ditambah lagi Islam tidak mengajarkan untuk pamer dan menumpuk harta. Daulah Khilafah akan memberikan modal dan edukasi bagi masyarakat untuk membuka usaha. Sehingga kaum muslimin akan merasakan proses sedikit demi sedikit untuk mengumpulkan harta dengan cara yang halal.