Petaka Tatkala Naluri Keibuan Tiada

Spread the love

Oleh: Eka Prasetyawati, S.Si

 

#MuslimahTimes — Ibu adalah sosok wanita yang berperan sebagai teladan, ibu sholehah, sosok yang penuh kesabaran yang luar biasa. Ungkapan kasih ibu sepanjang masa mungkin terdengar klasik, namun memiliki makna yang sangat dalam jika di kaji. Apapun dan bagaimanapun kondisinya seorang ibu akan menyayangi, melindungi anaknya sampai kapanpun.

Anak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ibunya, anak merupakan darah daging kedua orang tuanya,  anak adalah amanah dari Allah SWT untuk kita jaga dan karunia terindah dari Allah untuk kita.

Namun sayang, kasih ibu saat ini tergerus dengan kondisi. Sebagaimana dalam pemberitaan, kasus ibu yang tega membunuh anaknya. Didaerah Kebun Jeruk Jakarta seorang ibu tega membunuh anaknya sampai tewas dengan digelonggong air. Yang diduga stres karena diancam dicerai suaminya. Apabila anaknya ini dalam kondisi kurus tidak bisa gemuk (islampos.com).

Karena ancaman sang suami tersebut, hingga akhirnya mengambil jalan pintas untuk menggemukkan anaknya dengan cara digelonggong air minum. Saat digelonggong korban menangis dan akhirnya terjadi penganiayaan juga terhadap korban karena emosi sudah tak terkendali. Korban digelonggong air galon selama 20 menit dan korban secara terus-menerus dicekoki air hingga perutnya kembung lalu muntah-muntah dan kejang.

Banyak faktor penyebab mereka mengapa mereka tega membunuh anaknya sendiri. Pertama, masyarakat semakin kering iman. Kedua, tidak ada lagi perasaan malu. Ketiga, faktor ekonomi. Keempat, longgarnya sanksi hukum yang diberikan kepada pelaku, sehingga tidak memberikan efek jera bagi si pelaku dan mengakibatkan kasus kasus seperti ini terulang lagi. Kelima, kurangnya pengawasan dari negara sebagai pengontrol.

Penyebab-penyebab di atas adalah hasil dari sistem yang diterapkan yang menjauhkan agama dari kehidupan. Setelah melihat fakta-fakta di atas, ternyata ide-ide kebebasan yang diusung oleh kapitalisme, kedudukannya tidak bertambah mulia tapi justru bertambah rusak moralnya. Sementara sistem yang ada juga gagal memberikan perlindungan atas masyarakat. Lantas, apakah kita masih percaya pada sistem seperti ini? Dan ini semua adalah bukti bahwa makin hilangnya naluri keibuan akibat berlakunya kapitalisme, juga tidak adanya jaminan negara terhadap kesejahteraan perempuan.

 

Anak adalah Anugerah

Dalam al-Qur’an, anak disebutkan anak sebagai karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’aala. Ia adalah rezeki dan dambaan orang tua, ia adalah tabungan dan investasi orang tua, ia adalah tumpuan masa depan orang tua. Berapa banyak orang yang pontang-panting berobat ke sana sini, baik secara medis untuk mendapat anak, berapa banyak orang yang menghabiskan puluhan juta atau bahkan ratusan juta rupiah demi mendapatkan anak, dan juga tidak sedikit orang yang mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit untuk mengadopsi anak.

Anak semestinya dilahirkan demi menjadi penerus generasi orangtuanya, sebagai amanah yang harus dijaga dan dilindungi. Sehingga, anak harus dilahirkan penuh perencanaan/ kesadaran kedua orangtuanya, dengan cara halal yaitu melalui pernikahan, disambut suka cita dan dijamin hak-haknya. Semua itu bisa terwujud jika secara individu, anak dilahirkan dari orangtua yang sadar sepenuhnya akan tanggungjawabnya sebagai orangtua.

Rasulullah saw bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ibn umar r.a berkata; saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari- Muslim)

Masyarakat, harus memiliki kepedulian agar tindak maksiat, seperti pembunuhan terhadap anak tidak terjadi. Negara wajib menerapkan sistem Islam dan memberikan sanksi sesuai hukum Islam. Dan hanya Islam yang bisa menjamin kesejahteraan ibu dan anak.

Allah berfirman :

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS: al-Isra` [17]: 31).

Saatnya kita kembali pada Islam, kebenaran nilai-nilai Islam adalah sesuatu yang pasti yang harus ditunaikan oleh seluruh ummat manusia. Sudah saatnya kaum muslim memerangi hal-hal yang tidak beradab yang hanya membawa dampak keburukan pada manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *