Generasi Stroberi: Terlihat Manis, namun Mudah Menangis

Spread the love

Oleh: Anisa Puji Pangestu
(Siswi SMP Durrotul Ummah Tangerang)

Muslimahtimes.com– Stroberi adalah buah yang cantik dipandang dan lunak saat dimakan dan mudah sekali hancur saat dimakan. Teksturnya yang lembek dan rasanya yang agak asam membuat stroberi banyak digemari beberapa orang. Ngomong-ngomong tentang stroberi pernah nggak sih teman-teman mendengar istilah tentang Strawberry Generation atau Generasi Stroberi?

Strawberry Generation atau generasi stroberi adalah sebuah julukan yang ditunjukkan kepada sekelomopk orang yang dianggap ‘lembek’ seperti buah stroberi. Karakter generasi ini berciri- ciri lemah dan mudah terluka ketika dihadapkan oleh masalah atau situasi yang rumit. Generasi ini adalah generasi yang sebenarnya kreatif dan inovatif, namun mudah menyerah dan gampang sakit hati Ketika ada masalah yang muncul di hadapan mereka.

Bisa kita lihat, bahwa beberapa anak- anak zaman ini yang tidak mampu menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupannya, seperti tekanan pendidikan, sosial, dan juga tuntunan agama. Generasi ini berisikan anak-anak dengan sikap lambat, mudah menyerah, dan selalu pasimis terhadap sesuatu.

Selain itu, gernerasi stroberi ini selalu saja ingin mendapatkan sesuatu secara instan, padahal segala sesuatu tidak bisa diraih dengan cara yang instan, melainkan butuh pengorbanan dan perjuangan untuk bisa meraihnya. Dan pastinya itu tidak mudah dan tak jarang sangat sulit dilalui. Sehingga Ketika mereka mendapatkan hal sulit, mereka cenderung akan memilih lari menjauh dari hal tersebut, bukannya berusaha.

Akhirnya generesi ini selalu rapuh dan takut Ketika mencoba hal baru. Mereka adalah generasi yang ‘cengeng’ terhadap masalah atau lontaran kata dari seseorang yang mengkritik mereka, yang mereka lakukan adalah galau, stres, putus harapan sampai berujung bunuh diri. Tak banyak juga dari mereka yang memutuskan pergi ke psikater untuk mengobati mentalnya yang mudah hancur atau mengobati dirinya dengan cara hanya sekadar healing untuk menjernihkan pikiran mereka. Maka, ‘butuh healing’ atau ‘butuh refresing’ adalah alasan mereka untuk lari dari permasalahan.

Padahal healing seperti liburan atau me time hanya membuang uang dan waktu saja. Sebenarnya yang paling mereka butuhkan adalah Al-Qur’an, bukan liburan. Mereka lupa kepada siapa mereka meminta tolong, kepada siapa mereka berkeluh kesah. Padahal Allah Swt telah berfirman dalam Al- Qur’an “….sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku….”(QS. Yusuf: 86)

Lantas apakah jalan- jalan, liburan, atau mengahamburkan uang adalah cara- cara yang diajarkan oleh Islam? Tentu tidak kan.

Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengajarkan kita agar menjadi generasi emas yang berkilau di tengah peradaban. Islam mengajarkan kita untuk selalu berpegangan dengan erat kepada syariat- syariat-Nya, mencengkeram kuat ajaran-Nya, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Maka, ketika kita merasa cemas, galau, gelisah, kecewa frustasi, Islam akan mengatasinya dengan cara terbaik, memberikan banyak solusi terhadap problematika kehidupan yang kita jalani.
Maka, tak perlu ditanyakan lagi ketika kita mudah rapuh dalam menjalani kehidupan ini, lantaran kita sendiri yang memutuskan diri, menutup hati pada ajaran- ajaran Islam yang mulia. Kita seringkali menulikan pendengaran kita pada perintah serta larangan dari kitab kita yang mulia yaitu Al-Qur’an. Kebutuhan dan kemewahan pada dunia sangat tinggi sehingga Al-Qur’an ditelantarkan begitu saja. Sementara para pemuda tangguh Islam masa lalu yang disegani dan bertabur prestasi, seolah saat ini mustahil dicapai oleh pemuda zaman kini. Karena mereka sangat berbanding terbalik dengan kita. Mereka semua selalu mendekap kuat ajaran- ajaran Islam, mencengkeram kuat syariat-Nya dan menjadikan Al- Qur’an sebagai titik tumpu hidup mereka, maka wajar mereka sukses dunia akhirat.

Oleh karena itu, seharusnya kita bisa meneladani para pemuda Islam yang tangguh tadi, seharusnya kita mampu memegang panasnya bara Islam, karena kelak kita adalah generasi ‘Pemegang Bara Islam yang Tangguh’ yang disegani dan bertabur prestasi.